Rabu, 17 Juni 2009

"KUDA LUMPING DAN DOLALAK"


(Tarian Kuda Lumping)


(tarian Dolalak)

Kalau saja kita menghitung ragam kesenian tradisional Nusantara Indonesia kita pasti tidak akan percaya begitu banyaknya keragaman kesenian tradisional di tubuh Nusantara Indonesia.
sebut saja dua kesenian tari Dolalak dan Kuda Lumping yang merupakan kesenian tradisional kabupaten Purworejo dan Magelang

Kesenian tradisional Dolalak merupakan buah kebudayaan bangsa yang muncul dan berkembang di daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Awal munculnya Kesenian Dolalak pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia, sekitar tahun 1915. Kesenian ini merupakan sebuah akulturasi budaya Barat (Belanda) dan Timur (Indonesia), hal ini dapat dilihat dari beberapa aksesoris dan busana yang dikenakan mirip dengan seragam serdadu Belanda pada saat itu. Busana yng digunakan tarian Dolalak seperti baju lengan panjang dengan pangkat di bahu, celana pendek, topi, kaos kaki, dilengkapi dengan kaca mata hitam dan sampur. Tarian Dolalak sangat menarik sekali dengan berbagai gerak yang unik dan khas seperti kirig, ngetol, lilingan
dan lain sebagainya, juga ada gerak dansa dan berbaris menirukan gerak-gerik serdadu Belanda.
ini menjadikan ciri khas tersendiri bagi kabupaten Purworejo

Di Magelang tidak kalah serunya, Kota berslogan "Magelang Gemilang" itu mempunyai tarian warisan Nenek MOyang yang di peruntukkan sebagai hiburan Masyarakat. Tarian kuda lumping dimainkan oleh seoarang laki-laki akan tetapi terkadang juga ada suatu kelompok penggiat kesenian tradisional ini memilih personilnya seorang wanita.
Para penari Tarian Kuda Lumping dalam "Ujuk Giginya" selain memakai pakaian yang menyerupai "polisi kerajaan"mereka juga menunggang kuda, bukan kuda sebenarnya akantetapi kuda yang terbuat dari anyaman bambu.

Tarian Kuda Lumping mempunyai ciri khas dalam pertunjukannya selain para " Penthul" (badut) adalah penghibur di sela-sela pertunjukan, ada juga biasanya diakhir Sesion tarian Kuda Lumping acapkali terjadi "kesurupan" atau bahasa magelangnya "ndadi" yaitu para penari Kuda Lumping kehilangan kesadaran dan tidak mungkin tidak "sesajain" makanan untuk arwah itu di Lahab,dan terkadang pula penari yang ndadi tersebut meminta hal-hal atau barang yang aneh semisal mereka meminta beling (pecahan kaca/piring) untuk dimakan,

Kengerian-kengerian yang terjadi di akhir sesion tersebut tak sedikit membuat para penonton agak takut dan ngeri, akantetapi justru dari fenomena dibawah alam sadar itulah yang ditunggu dan menjadi kepuasan para penonton

masih banyak Kesenian Tradisional Nusantara Indonesia yang masih ada selain kesenian Tradisional yang ada di Purjworejo dan Magelang.Budaya tradisional yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia pada umumnya dan kebanggaan Masyarakat Indonesia khususnya sudah menjadi "harga mati" milik bangsa Indonesia dan bukan "harga tawar" bagi negara "seberang" (Malaysia).
Berangkat dari situlah maka bangsa Indonesia mempunyai beragam macam kesenian tradisionalnya haruslah berusaha nguri-nguri (melestarikan) dan tidak hanya melestarikan tapi juga mempromosikan me khalayak luas yang bertaraf Nasional maupun Inter nasional.

1 komentar:

Ponco Susanto mengatakan...

Memang budaya kita sering di akui negara lain. Karena apa? Karena penduduk malaysia kebanyakan berasal dari indonesia. Ya seharusnya pemerintah malaysia juga menyadari itu.sayang mereka asal - asalan saja mengklaim budaya orang. Tidak mau menelusuri dari mana budaya orang yang mereka akui.
Sekalian mau nawarin salah satu cara menghasilkan uang dari blog klik aj disini. Jangan lupa ya kunjungi blogku yah.http://poncosusanto.blogspot.com