Jumat, 04 September 2009

AIR TERJUN CURUG SILAWE




Jalan-jalan ke Magelang ? pasti obyek wisata yang pertama dipilih wisatawan adalah candi borobudur yang pencitraannya sudah go internasional,tapi tidak salah jika sudah mengunjungi candi borobudur luangkan sedikit waktu sekedar menghilangkan rasa lelah dan panas setelah berlama-lama di kawasan candi borobudur.

Menuju kearah utara di salah satu kawasan wisata Magelang yaitu “air terjun curug silawe”, ya, air terjun yang dari mata air gunung Sumbing itu jerdih dan dingin cocok untuk menghilangkan rasa lelah dan dahaga, ditambah suasana sejuk dan rimbunnya pohon-pohon di sekitar air terjun curuk silawe.

Belum lagi, sebelum memasuki kawasan air terjun curug silawe pengunjung segera disambut oleh pemandangan pohon-pohon pinus yang tumbuh dipegunungan sebelah kiri curug silawe dan ditambah lagi pemandangan aktivitas penduduk asli setempat yang ramah tamah mengingatkan jatidiri asli orang Indonesia.

Curug si Lawe dan curug si Gong
Sebenarnya curug silawe yang ada di Desa kopeng kulon,kelurahan Sutopati, kec.Kajoran kab. Magelang memiliki dua air terjun yang memiliki nama masing-masing, yaitu Curug si Lawe dan Curug siGong.

Dimana penamaan obyek wisata tersebut bukan berarti dua nama dijadikan sebagai nama obyek wisata melainkan curug siLawelah yang dipilih untuk dijadikan nama obyek wisata air terjun tersebut.mungkin karena curug siLawe dalam hal ketinggian dibilang lebih tinggi dan sangat memukau pengunjung daripada curug siGong.

Dan bukan berarti curug siGong tidak memiliki keindahan?curug siGong sendiri terletak di sebelah kanan curug siLawe dan tempatnyapun bertebing tapi berbatuan dan walaupun ketinggiannya tidak setinggi curug siLawe tapi lebar air terjunnya sangat indah ditambah disekitar curug siGong ini dibangun gasebo-gasebo dan taman disekitarnya sehingga kesan curug siGong adalah taman dari curug siLawe.

Dan seperti penuturan ketua pengelola Bapak Suroso,bahwa asal muasal penamaan kedua curug ini memang unik,curug siLawe sendiri memang sejak zaman dahulu disekitar air terjunya sudah ditimbuhi “Lawe” atau sarang laba-laba sehingga dinamakan curug siLawe.

Berbeda dengan penamaan curug siGong yang sedikit banyak berbau unsur mistik,karena setiap malam selasa dan kliwon warga setempat sering mendengar suara Gong yang berbunyi di sekitar curug siGong.

Kesenian Tradisional
Bapak Suroso sendiri selaku ketua pengelola obyek wisata curug siLawe menuturkan untuk lebih meningkatkan jumlah pengunjung memang sering diadakan pagelaran-pagelaran kesenian tradisional seperti dayaan,kuda lumping,kubro,dan lain-lain yang bertempat dilapangan sebelah kiri pintu masuk curug siLawe.

Dan dalam seatahun sekali juga sering diadakan ritual-ritual adat penduduk setempat yang sering disebut “Ngloro sengkolo”,dan digelar biasanya menjelang bulan ramadhan,bentuk ritual ini seperti biasa adat-adat yang lain yaitu diarak dari lapangan sutopati sampai curug siLawe yang berupa gunungan hasil dari pertanian penduduk setempat.

selain untuk membersihkan diri baik batin maupun fisik juga ritual tersebut sebagai ungkapan rasa syukur penduduk setempat kepada Allah SWT rizki yang diberikanNya.

Pengunjung
Anda yang ingin berkunjung kecurug siLawe terutama bagi mereka yang berkendaraan mobil sebaiknya memakir kendaraan anda tidak ditempat parkir umum seperti biasanya namun cukup dititipkan pada warga setempat karena jalan +_ 100 M menuju curug silawe terbilang sangat terjal dan jalannyapun masih berbatuan(kricaan) dengan demikian pengunjung harus rela berjalan tapi disamping itu pengunjung bisa juga menikmati pemandangan desa dan aktivitas penduduk setempat yang khas.

Dan untuk masuk di obyek wisata curug siLawe pengunjung harus mengocek uang sebesar Rp 3000,- untuk tiket +parkir motor,terbilang murah kan..!
Dengan harga tiket masuk yag hanya seharga tidak lebih dari sebungkus rokok,pengunjung sudah dipuaskan dengan kekayaan panorama yang dimiliki curug siLawe.

Pengunjung obyek wisata curug siLawe masih terbilang berpengunjung sedikit meskipun sudah digelar berbagai kesenian tradisional,ini terlihat dari jumlah pengunjung pada setiap harinya yang dibuka dari jam 09.00-16.00 pada hari biasa pengunjung hanya berjumlah +_ 100 orang dan pada hari libur nasional hanya mencapai +_400 orang.

Keadaan seperti ini sangat mengganggu management dalam upaya-upaya meningkatkan jumlah pengunjung dan bukan tidak mungkin apabila keadaan ini berlanjut dengan pemasukan yang hanya sebesar pengunjung yang datang itu,fasilitas dan progam-progam peningkatan pengunjung akan tersendat.dan mangkrak ditengah jalan,terkecuali ada suntikan dana baik dari pihak swasta maupun PEMDA setempat

Mungkin dari PEMDA setempat lebih memperhatikan kembali terutama dalam hal infrastruktur,pembenahan management dan pembinaan penduduk setempat bahwa mereka dalam kepariwisataan juga ikut andil dalam kemajuan obyek wisatanya.

Dan karena tidak hanya air terjunnya saja yang menjadi andalan obyek wisata curug silawe tapi aktivitas dan keramah tamahan serta keindahan tatanan rumah penduduk setempat bukan tidak mungkin akan menjadi tujuan kedua setelah pengunjung merasakan keindahan curug silawe,dan upaya ini tidak jauh dari peran para pengelola,penduduk setempat dam pemda tentunya,

Dengan demikian,walaupun PEMDA Magelang sudah memiliki aset kepariwisataan yang terbilang cukup besar dari obyek wisata candi Borobudur tapi tidak menutup kemungkinan apabila obyek wisata curug siLawe dan lainnya lebih dikembangkan kembali, Magelang akan menjadi salah satu kota tujuan wisata lokal dan mancanegara setelah Yogyakarta.

3 komentar:

joglo manis mengatakan...

halo curuk silawe............

Aditya Ragil mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

Dengan demikian,walaupun PEMDA Magelang sudah memiliki aset kepariwisataan yang terbilang cukup besar dari obyek wisata candi Borobudur tapi tidak menutup kemungkinan apabila obyek wisata curug siLawe dan lainnya lebih