Minggu, 06 September 2009

KUDA LUMPING DAN DOLALAK








Di bawah ini adalah tulisan ku yang pernah di muat di KH SUARA MERDEKA (edisi Minggu,19 juli 2009)

Dan aku bangga pada diriku huhu (ih narsis deh...) tapi gak papa namanya juga pemula....

Dan juga dibawah ini merupakan tulisan yang udah di editing ma team editor SM,Sehingga aku bisa belajar dari apa hal ini....dan melangkah lebih baik dari jejak-jejakku silam...


Kalau saja kita menghitung ragam kesenian tradisional Nusantara Indonesia kita pasti tidak akan percaya begitu banyaknya keragaman kesenian tradisional di tubuh Nusantara Indonesia.
sebut saja dua kesenian tari Dolalak dan Kuda Lumping yang merupakan kesenian tradisional kabupaten Purworejo dan Magelang

Kesenian tradisional Dolalak merupakan buah kebudayaan bangsa yang muncul dan berkembang di daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Awal munculnya Kesenian Dolalak pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia, sekitar tahun 1915. Kesenian ini merupakan sebuah akulturasi budaya Barat (Belanda) dan Timur (Indonesia), hal ini dapat dilihat dari beberapa aksesoris dan busana yang dikenakan mirip dengan seragam serdadu Belanda pada saat itu. Busana yng digunakan tarian Dolalak seperti baju lengan panjang dengan pangkat di bahu, celana pendek, topi, kaos kaki, dilengkapi dengan kaca mata hitam dan sampur. Tarian Dolalak sangat menarik sekali dengan berbagai gerak yang unik dan khas seperti kirig, ngetol, lilingan
dan lain sebagainya, juga ada gerak dansa dan berbaris menirukan gerak-gerik serdadu Belanda.
ini menjadikan ciri khas tersendiri bagi kabupaten Purworejo

Di Magelang tidak kalah serunya, Kota berslogan "Magelang Gemilang" itu mempunyai tarian warisan Nenek MOyang yang di peruntukkan sebagai hiburan Masyarakat. Tarian kuda lumping dimainkan oleh seoarang laki-laki akan tetapi terkadang juga ada suatu kelompok penggiat kesenian tradisional ini memilih personilnya seorang wanita.
Para penari Tarian Kuda Lumping dalam "Ujuk Giginya" selain memakai pakaian yang menyerupai "polisi kerajaan"mereka juga menunggang kuda, bukan kuda sebenarnya akantetapi kuda yang terbuat dari anyaman bambu.

Tarian Kuda Lumping mempunyai ciri khas dalam pertunjukannya selain para " Penthul" (badut) adalah penghibur di sela-sela pertunjukan, ada juga biasanya diakhir Sesion tarian Kuda Lumping acapkali terjadi "kesurupan" atau bahasa magelangnya "ndadi" yaitu para penari Kuda Lumping kehilangan kesadaran dan tidak mungkin tidak "sesajain" makanan untuk arwah itu di Lahab,dan terkadang pula penari yang ndadi tersebut meminta hal-hal atau barang yang aneh semisal mereka meminta beling (pecahan kaca/piring) untuk dimakan,

Kengerian-kengerian yang terjadi di akhir sesion tersebut tak sedikit membuat para penonton agak takut dan ngeri, akantetapi justru dari fenomena dibawah alam sadar itulah yang ditunggu dan menjadi kepuasan para penonton

OIYA,,, Coba deh di bandingin ma posting ku yang sebelumnya belum di edit ma team SM...Klik Disini

1 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, hebat ya. dah dimuat tulisannya. lam kenal juga