Jumat, 25 Mei 2012

#Blonek yang tak terlupakan


Pertama-tama aku mau ketawa dulu “Hahaha”, kenapa ketawa? Iya betul banget aku lagi mau berpartisipasi pengalaman #blonek Nekat ku di Kontes Blognya @dotsemarang dimana kalau diingat-ingat pengen ketawa sendiri ,cerita tentang #blonek ku ini terbilang sudah usang dan lama sekali, mungkin sekitar 5 tahun yang lalu, benar sekali, 2007. (Kalau gak salah se ).

Selanjutnya aku mau memberi gambaran sedikit tentang aku dan teman-temanku pada masa itu biar ceritanya seru!

Katakanlah aku dan keempat temanku (atur, Gayus, Fiki, Galuh) kami teman CS (akrab) banget. Kami adalah anak asrama di kota Purworejo, dimana nasib keuangan sangat tergantung dari kiriman orang tua, uang dikirim sebulan sekali bahkan dua bulan sekali. Kala itu kami masih anak SMA kelas 10 B (kelas satu) dan kami tergolong anak yang bandel apalagi Galuh dan Fiki mereka termasuk pentolan sekolah di SMP mereka masing-masing. Penting baca bagian ini:  Fiki adalah anak asli dari semarang gaya bicara dan kelakuan sedikit lebay dan anggun, tapi badannya kekar. Galuh sendiri demikian bedanya dia anak Magelang badannya gak kekar. Cucoklah mereka berdua.

Walaupun begitu aku, Fatur dan Gayus tetap  berteman dengan mereka berdua karena kami rasa kami adalah grup SM*SH dijaman itu. Lihat saja potongan rambut mereka berempat sudah mirip vokalis 'kangen band' semua, kecuali aku. Ngeles.

Sedangkan karakter aku, Fatur dan Gayus bisa digambarkan seperti ini. Fatur : pendiam, sabaran, gak suka ribut. Gayus: pemarah, orangnya obsesian, emosional, pelit. Aku: gak suka keributan, bijaksana, dan penakut sesama jenis.

Dan untuk menggambarkan Paras kami, cukup mudah. Kami Ganteng semua dan gak ada yang cantik kecuali Fiki dan Galuh, semi ganteng.

Kok perkenalannya jadi panjang ya? Oke Lanjut. Pada intinya waktu musibah #blonek akan terjadi kondisi keuangan kami sedang diambang ujung tanduk. Dan cerita diatas hanya penggambaran karakter kami dan status kami yang masih anak SMA dimana darah 'kenakalan' sudah mendidih diujung gunung merapi.

Oke, langsung kecerita #Blonek nya.

Pagi, Aku baru aja balik dari magelang, aku langsung kesekolah dan gak mampir asrama, aku tergesa-gesa takut terlambat sampai di sekolah seperti seminggu yang lalu, walau aku udah mempercepat cara berjalanku tetap aja aku terlambat, akhirnya trik anak ngeles-an pun keluar, aku mlipir pelan-pelan lewat pintu belakang, alhamdulillah gak ada yang tahu.

Sebagai sobat yang baik hati, aku memikirkan keadaan keempat sobatku, udah pada datang apa belum ya? Apa mereka udah masuk kelas? Mungkin. Aku sambil pelan-pelan menuju kelas, tepat dilorong tangga dan gak jauh dari tempat aku lewat belakang tadi, tiba-tiba mereka berempat juga baru aja masuk lewat pintu belakang, AllahuAkbar! Ternyata kalian terlambat! “sstttt jangan keras-keras tom!” bisik Fatur sambil membungkam mulutku.

Gayus menyaut, “sssttt brisik!, eh mending kita gak masuk sekalian, masuknya nanti jam kedua aja!”
Aku liat jam ditanganku, masih jam tujuh lewat 15 menit, padahal jam kedua pukul 08:15 WIB. Yowess terpaksa aku ikut mereka.
“iyo ig, aku yo setuju”,  logat semarangan Fiki mulai keluar.
“iya, iyo opo ndes! Arep ngopo saiki ning kene ndes!” ucap Galuh lantang, memecah suasana.
Gayus menengahi dialog, “ wess santai aja bro, disini aman. Gini aja mending kita mikirin gimana caranya Nanti malam bisa nonton Konser DEWA 19 di alun-alun Jogja!”

Waduh, malapetaka ajakan Gayus ini, gak tau kalau uangku lagi habis dimagelang kemarin, makan aja ngebon diwarung. Tapi karena Fatur, Galuh dan Fiki menyetujui akhirnya aku ikut menyetujui, aku sampaikan kepada mereka bahwa aku lagi gak pegang uang, secara ini tanggal 31 Desember, gajian ku dari Ortu masih tanggal 5 januari.

Ketika aku bilang aku gak pegang uang kepada mereka, jawaban mereka semua juga sama denganku, bedanya mereka ada uang tapi gak sampai 15 ribu perorang. Tiba-tiba Galuh mengusulkan ide dan kebijakan yang sangat cemerlang, “AYOK KITA #BLONEK AJA!” seru Galuh dengan semangat. Akhirnya kami menyetujui kebijakan dari Galuh, sidang ditutup, pukul menunjukkan 08:05 dan kami masuk masuk kelas.

#BLONEK

#Blonek Sesion Satu
Jam pulang sekolah berbunyi, aku pulang sama mereka berempat, dijalan kami membicarakan banyak hal mulai dari persiapan keuangan sampai alat transportasi menuju Jogja.

Disini Soal keuangan yang terpayah adalah aku, babarblas gak pegang uang. Kenapa uangnya aku habiskan waktu pulang kemagelang kemarin! (jedotin kepala ke tas) , ide pun muncul, sampai di asrama aku menuju komplek anak-anak SMP, aku kenal salah satu adik kelasku, dengan muka memelas aku minjem duit ke dia, kata dia, “mas, mas tau ini tangal tua? Aku cuma bisa minjemin 10rb aja” dalam hatiku, uasem tenan, yowes gak papa. Yang penting dapat uang.

Rancang Rencana #Blonek sudah jelas di otak aku dan keempat temanku, pukul 16:00 sore harus sudah sampai di Stasiun Kutoarjo, naik kereta api tut tut tuuuttt, siapa hendak turuttt... (lho? kok malah jadi nyanyi sih! Iyalah, ini pertama kali aku naik kereta lho :D ) sampai di Stasiun Lempuyangan jalan kaki ke arah alun-alun Jogja. Nonton konser DEWA 19 (horee!) Dan nanti pulangnya jalan kaki ke stasiun lempuyangan lagi dan naik kereta api juga, Sampai di Purworejo. Selesai.

Tapi kemalangan memang tidak bisa diduga, berbagai sebab membuat aku dan keempat temanku harus menangis darah. Pokoknya gatot bin gatot kaca!

Soal keuangan hal yang sangat penting dalam suatu perjalanan, dengan ilmu ekonomi yang ku dapat di kelas akhirnya uang kami kumpulkan menjadi satu, terkumpulah uang 40rb dari kantong kami masing-masing. Secara, uang segini gak mungkin beli karcis Kutoarjo-Jogja untuk kami berlima, kalau pun bisa lalu nanti kita mau makan apa? Kerikil? Hah?

Akhirnya kami menunggu “Kereta Barang” datang, sebentar. Ada yang tau kereta barang? Itu lho kereta yang bawa barang-barang seperti batu bara, pasir putih atau apapun yagn pasti bukan kereta api layak dan komersil.

Setelah menunggu lama sekali hampir jam lima, Kereta datang, oke sip. Kami loncat ke selah-selah gerbong dan yang lain ada yang naik keatas gerbong. Aman? Tidakkk! Polisi Stasiun teriak-teriak sambil bawa Pentungan, “WOOIII TURUN!, ANAK BANDEEELL! WOIII...TURUUUUUNNNN!!!”. Kami kaget, turun dan lari kebirit-birit.

Mending menyelamatkan diri dari Polisi daripada memaksa ikut kereta barang, pupus cita-citaku naik kereta untuk pertama kalinya. Kami membuka Opsi B, yaitu Ngeblek atau ikut numpang truk-truk yang lewat dan sedang menuju Jogja, diperempatan lampu merah (bangjo) Kutoarjo kami menunggu, lama dan lama sekali, jarum jam hampir mununjukkan pukul 6. lama dikarenakan banyak truk-truk yang gak mau ditumpangi, emang se muka kita gak serem, muka kita lebaaaayy semua, kayak si Fiki dan Galuh itu. Jadi mana ada yang takut sopir truknya.hemmm…

Setelah berdoa, akhirnya kita dapet tumpangan, yaitu truk yang baru aja mogok dipinggir jalan dan kita disuruh mendorong agar mesinnya hidup, setelah mesinnya hidup kami loncat memanjat ke badan truk, masuk kedalam sambil bilang “Alhamdulillah, gak ada Polisi lagi!”. Jogjaaaa we are coming!
Purworejo – Jogja kurang lebih ditempuh 2 jam, didalam truk kami Cuma bisa cengar-cengir, bergura liat muka-muka aneh kita berlima. Sungguh aneh, iya karena sepanjang perjalanan kami tanpa membawa bekal dan kehujanan, hujan yang lebat membuat badan kami basah kuyup sampai ke CD (Celana Dalam), ugghhhh gak enak benerrr!

Truk berhenti, sepertinya udah sampai di Jogja. Yes. Ternyata belum. Truk mogok dan kami disuruh dorong truk lagi, sial. Akhirnya truk berhenti untuk kedua kalinya dan kali ini benar-benar udah sampai di Jogja, siplah.

Turun dari truk kami mengucap terimakasih ke supir truk, tanpa kamu kami gak sampai di Jogja Pak!, walau sebenarnya kami ndongkol, yaiyalah basah kuyub, laper capek ndorong truk se gede itu.

Hal pertama yang kami pikirkan adalah, CARI ANGKRINGAN ! kami laper banget dan perlu Nasi Kucing dan Wedang Jahe Susu buat ngangetin tubuh kami, walau selaper-lapernya kami, kami harus ngirit pengeluaran. Iya, dapatlah Jahe susunya satu gelas buat berlima, nasi kucingnyaa… berapa ya lupa. Pokoknya perut keisi waktu itu.

Lanjut, intinya kita sudah sampai di Alun-alun Jogja, konser dalam rangka menyambut Tahun baru sangat meriah, apalagi kami sempat lewat Jl. Malioboro, wuih sesak. Sesak orang-orang pada jalan kaki.

Hujan terkadang turun, terkadang berhenti. Tapi banyak turunnya, alhasil baju kami gak kering-kering dan tingkat kelembapan CD pun meningkat 80%. Aku jadi gak begitu menikmati konser Dewa 19, karena aku sendiri  iri liat orang-orang pada nggandeng ceweknya masing-masing, apalagi yang ‘nggandeng’nya lewat ‘belakang’, masyaallah! Makanya aku menghindar dari kerumunan, aku cari tempat berteduh, kebetulan dibelakang Jenset gak keujanan dan yang paling terpenting Hangat disekitar jenset. Hehehe

Sementara keempat temanku masih ditengah kerumunan, menanti suara terompet di bunyikan secara bebarengan di atas panggung saat menjelang detik-detik Tahun baru. dan gak lama terompet Tahun Baru di tiup secara bersamaan teeteett toreetttt….bebarengan dengan puluhan kembang api meluncur kelangit, membuat kuping gaduh tapi bikin meriah seluruh.

Sejam kemudian kami pulang, berjalan kaki menuju stasiun Lempuyangan, lagi-lagi Hujan rintik-rintik setia banget nemenin kami. Sial.


#Blonek Sesion Dua
Oke, saatnya pulang ke purworejo. Seperti biasa keuangan kami sudah menipis, sisa 40%. Kami beli gorengan buat  mengganjal perut sambil Menunggu kereta barang datang sekitar jam 04:00 WIB pagi.
Sebentar, ceritanya kepanjangan ya.. mending dipersingkat ya :D.

Sekitar jam 3 pagi, dalam keadaan baju, celana dan CD basah kuyub akhirnya kami memutuskan masuk Gerbong yang sudah tidak dipakai (diparkir), didalam gerbong kami membuka baju dan celana tapi CD nya masih dipakek, Woii mau ngapaiin! Stop, jangan pikiran yang tidak-tidak, jujur kami risih pakek baju basah, makanya sambil tidur sambil baju dikeringin di dalam gerbong.

Gak tau kabar angin dari mana tiba-tiba Manusia teraneh sedunia masuk ke Gerbong, siapa dia? WARIAA!! Oh my God, MAAFKAN DOSA KAMI !! secepat kilat aku pakai celana dan baju, Telat! Warianya udah dibelakang aku. Dengan senyam-senyum aku mlipir lewat samping waria, sambil dicubit-cubit perut aku. Ya Allah, pengen pingsan rasanya. Akhirnya aku bisa keluar bersama Fatur, Gayus dan Galuh. Loh? Si Fiki mana? Bener banget, dia masih didalam gerbong, Oh My God, dia gabung dengan sesama dia. Hahaha. Udahlah kami biarkan mereka ‘pacaran’.

Lupakan tragedi memalukan tadi, rupanya kereta barang berbohong, kereta gak jadi datang pukul 4. Kami Tanya ke pihak berwenang di stasiun katanya nanti jam 7 pagi, setelah ditunggu-tunggu kereta gak datang juga, katanya jam 10an, gak datang juga, katanya lagi jam 12an dan gak datang juga… rasa-rasanya kepalaku pengen aku jedotin ke muka Waria-waria semalam!

Oke, fine. Dengan rasa capek, lapar, belum mandi, dan sebagainya kami tetap ganteng, tetap cari akal bagaimana kami bisa pulang ke Purworejo, yap. Kami ambil keputusan untuk keluar dari Stasiun Lempuyangan dan alhamdulillah dapet tumpangan mobil bak pick up . kata si Pak Sopir dia mau ke purworejo dan kami boleh numpang, tapi tau kenapa kami diturunkan paksa di masjid Agung Wates. Modiaaarrrr….apa gara-gara sopirnya mencium bau tak sedap? Apa benar dia tau kalau kami belum mandi ya? secara waktu itu udah siang, tingkat bau ‘kambing’ sudah diatas batas normal.

Inikah dosa kami ya Tuhan? Enggak berangkat, enggak pulang kami seperti orang gelandangan. Oke, sip. Kami tetap Ganteng, kami tetap cari akal bagaimana bisa pulang ke Purworejo. Yap, ide muncul yaitu Naik kereta lagi! kami jalan kaki menuju Stasiun Wates yang jauhnya ….. jauh sekalilah, tapi tiba-tiba hujan datang lagi, dan lengkaplah sudaaaaaahhhhh!!!. Emosi tingkat tinggi sudah ada di ubun-ubun kami berlima, terkadang kami cekcok dan saling salah menyalahkan. Entah. Posisi setan sudah menempel di badan atau masih di baju.

Pada akhirnya, kami sampai di stasiun wates. Lagi-lagi menunggu kereta barang datang. Tapi Kali ini menunggu keretanya gak lama, Cuma beberapa puluh menit dan datanglah Kereta Barang. Kami Sorak-sorak bergembira dan senang rasanya, senangnya itu seperti habis Mendapat Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Walaubagaimanapun #Blonek pada waktu itu kami mendapat banyak pelajaran, ternyata rasa syukur itu perlu, karena kami tidak mati dijalan…

Sekian. Fiiuuuhhh ..


PS: Buat Galuh, Fiki, Fatur, dan Gayus. Kalian kalau baca Tulisan ini pasti tau nama samaran yang aku buat diatas. Itu kalian cooyyy hahaha maaf ya…. piss :D

Dokumentasi Photo gak ada, soalnya memang jaman itu kami gak punya kamera buat mhoto. Boro-boro Photo hape Nokia 3315 ajah gak punya hehe

Photo pinjem dari
-         Google Image
-         http://kfk.kompas.com/kfk/view/97663
-         http://rimpikaruniasti.wordpress.com/2012/01/



Tidak ada komentar: